Dari Bengkel ke Ruang Kelas: Perjalanan Saya Menemukan Makna Menjadi Guru Otomotif
Perjalanan saya menjadi guru Teknik Otomotif tidak dimulai dari keinginan untuk mengajar, melainkan dari pengalaman berorganisasi, ketertarikan pada perencanaan pembelajaran, dan pengalaman bekerja sebagai kepala bengkel di industri otomotif. Pengalaman melihat kesenjangan kompetensi mekanik menjadi titik balik yang mendorong saya mengikuti PPG UPI. Kini, saya ingin berkontribusi dalam membangun pendidikan vokasi yang lebih relevan dengan kebutuhan industri.

Saya tidak pernah benar-benar merencanakan untuk menjadi guru. Bahkan, ketika menempuh pendidikan S1 Pendidikan Teknik Otomotif, saya justru berusaha mencari jalan agar bisa bekerja di luar dunia pendidikan. Saat itu, saya memandang profesi guru dari sisi penghasilan yang menurut saya belum tentu dapat mencukupi kebutuhan hidup.
Namun, kehidupan membawa saya pada pengalaman yang perlahan mengubah cara pandang tersebut. Saya mulai menyadari bahwa dunia pendidikan sebenarnya sudah menjadi bagian dari perjalanan saya, jauh sebelum akhirnya memutuskan untuk mengikuti Program Pendidikan Profesi Guru (PPG).
Tanpa Disadari, Saya Sudah Belajar Mendidik
Selama kuliah, saya aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Saya pernah menjadi ketua divisi acara yang bertanggung jawab merencanakan dan melaksanakan kegiatan kaderisasi mahasiswa tingkat program studi. Kegiatan tersebut bukan sekadar menyelenggarakan acara, tetapi juga menjadi proses mengenalkan adik tingkat pada kehidupan kampus.
Pada tahun berikutnya, saya mengemban tanggung jawab sebagai ketua Departemen Pengembangan Sumber Daya Organisasi di tingkat program studi sekaligus ketua bidang kaderisasi di organisasi tingkat fakultas.
Dari pengalaman itu, saya belajar merencanakan kegiatan, menyusun tahapan, mengarahkan orang lain, dan memastikan tujuan kegiatan tercapai. Jika dipikirkan kembali, banyak hal yang saya lakukan ternyata memiliki hubungan erat dengan proses pendidikan.
Saya juga menemukan ketertarikan tersendiri ketika mempelajari mata kuliah Perencanaan Pembelajaran. Saya menikmati proses menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), terutama ketika merumuskan tujuan pembelajaran menggunakan pendekatan ABCD: Audience, Behavior, Condition, dan Degree. Ketika dosen memberikan apresiasi terhadap hasil pekerjaan saya, pengalaman tersebut memberikan kepuasan tersendiri.
Sayangnya, saat itu saya belum menyadari bahwa hal-hal yang saya sukai tersebut sebenarnya dapat menjadi petunjuk tentang arah karier saya.
Pengalaman di Industri yang Mengubah Cara Pandang
Setelah menyelesaikan pendidikan S1, saya memilih bekerja di industri. Saya menjadi kepala bengkel di AHASS CV. Samudera Motor, Jakarta Timur. Keputusan itu saya ambil karena saat itu saya lebih tertarik membangun karier di dunia kerja daripada menjadi guru.
Di bengkel, saya berhadapan langsung dengan kebutuhan industri, termasuk tuntutan terhadap kompetensi mekanik. Saya menemukan adanya kesenjangan antara kompetensi mekanik yang baru direkrut dan standar kemampuan yang saya harapkan dari mereka.
Pengalaman itu membuat saya berpikir lebih jauh. Industri memang dapat melatih tenaga kerja baru, tetapi apakah persoalan tersebut akan terus berulang jika perbaikan hanya dilakukan setelah seseorang memasuki dunia kerja?
Saya mulai melihat bahwa sekolah memiliki peran yang sangat penting. Siswa perlu mendapatkan pembelajaran yang tidak hanya mengajarkan pengetahuan dan keterampilan teknis, tetapi juga membiasakan mereka dengan standar kerja, budaya industri, komunikasi, kedisiplinan, dan tanggung jawab profesional.
Pada titik itu, saya mulai memahami bahwa memperbaiki kompetensi tenaga kerja seharusnya tidak hanya menjadi tanggung jawab industri. Prosesnya perlu dimulai sejak pendidikan.
Kembali ke Dunia Pendidikan Melalui PPG UPI
Pemikiran tersebut menjadi titik balik perjalanan saya. Saya yang sebelumnya berusaha menghindari profesi guru justru mulai melihat pendidikan sebagai bidang yang memungkinkan saya berkontribusi terhadap persoalan yang saya temui di industri.
Akhirnya, saya memantapkan diri mengikuti seleksi mahasiswa PPG Prajabatan di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
Selama mengikuti PPG, saya memperoleh pemahaman baru tentang bagaimana menjadi pendidik yang mampu merancang pembelajaran secara lebih bermakna. Mata kuliah Pembelajaran Mendalam dan Asesmen membantu saya meningkatkan kualitas perencanaan pembelajaran. Mata kuliah Growth Mindset mengajarkan pentingnya membangun keyakinan bahwa kemampuan dapat terus berkembang melalui usaha dan proses belajar. Sementara itu, mata kuliah Pemahaman Peserta Didik dan Pembelajaran memperkuat pemahaman saya tentang pentingnya menyesuaikan pembelajaran dengan karakteristik dan kebutuhan siswa.
Saya semakin menyadari bahwa menjadi guru bukan hanya tentang menguasai materi. Guru harus mampu memahami siswa, merancang pengalaman belajar, memberikan umpan balik, dan membantu setiap siswa mengembangkan potensinya.
Salah satu pengalaman yang membuat perjalanan PPG terasa berkesan adalah bertemu dengan teman-teman yang memiliki tujuan dan kegemaran yang sama. Kami hanya berjumlah 13 orang dan sama-sama memiliki ketertarikan pada bidang mesin dan otomotif. Kedekatan tersebut membuat kami bukan hanya menjadi teman belajar, tetapi juga saudara seperjuangan yang saling berbagi pengalaman dan semangat.
Menjadi Guru yang Terus Bertumbuh
Bagi saya, menjadi guru Teknik Otomotif berarti bersedia terus belajar. Teknologi otomotif berkembang dengan cepat, mulai dari sistem konvensional, sistem injeksi, hingga kendaraan listrik dengan beragam teknologi yang terus berkembang.
Perubahan itu menuntut saya untuk selalu memperbarui pengetahuan dan keterampilan agar pembelajaran yang diberikan tetap relevan dengan kebutuhan industri.
Saya ingin menjadi guru yang tidak hanya mengajarkan cara memperbaiki kendaraan, tetapi juga membimbing siswa memahami standar kerja, berpikir kritis, menyelesaikan masalah, dan memiliki sikap profesional.
Saya menyadari bahwa perjalanan saya menuju dunia pendidikan tidak berlangsung dalam garis lurus. Ada keraguan, pilihan yang berbeda, dan pengalaman yang mengubah cara pandang saya. Namun, justru dari perjalanan itulah saya menemukan alasan yang lebih kuat untuk menjadi seorang pendidik.
Saya ingin terus mengembangkan diri dan mengambil bagian dalam memperkecil kesenjangan kompetensi antara sekolah dan industri.
Bagi saya, kembali ke dunia pendidikan bukan berarti meninggalkan pengalaman di industri. Sebaliknya, pengalaman itulah yang menjadi bekal untuk membangun pembelajaran yang lebih dekat dengan kebutuhan dunia kerja.
Tanggapan (0)
Belum ada tanggapan. Jadilah yang pertama menulis.